Rabu, 25 November 2009

ULANG TAHUN

Hari ini saya mendapat banyak ucapan selamat ulang tahun, karena saya lahir tanggal 25 November 1957.
Macam-macam ucapan yang mereka kemukakan. Ada yang selamat milad, selamat ulang tahun, prihatin karena semakin dekat ke liang kubur. Ada juga yang pake do’a.
Untuk semua itu saya ucapkan terimakasih. Bukan berterimakasih atas ucapan selamat ulang tahunnya, tapi terimakasih atas perhatian dan kepeduliannya kepada saya.

Yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini adalah tentang peringatan hari lahir (sebagian orang mengatakan peringatan ulang tahun) dan segala kegiatan yang menyertainya.

Satu hal yang sangat berbeda dengan ajaran Islam adalah pemahaman tentang umur. Kebanyakan yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya memahami bahwa umur saya bertambah. Memang umur hidup (umur pakai) bertambah. Tetapi itu kan juga berarti bahwa sisa umur yang masih ada jadi berkurang.
Kenapa terjadi perbedaan pemahaman (yang menurut saya sangat prinsip) tentang umur?
Jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa:
1. Mereka yang menganggap BERTAMBAH umur, sehingga layak mendapat ucapan selamat, adalah karena, sadar atau tidak, mereka menganggap bahwa kehidupan hanya ada di dunia ini. Atau paling tidak mereka adalah termasuk orang yang mencari senang dunia. Sangat mungkin orang-orang yang demikian sangat kurang persiapan untuk menghadapi kematian, sehingga peristiwa mati adalah peristiwa yang menakutkan, yang sedapat mungkin dihindari (mau lari kemana???).
2. Sedangkan mereka yang menganggap jatah umur/sisa umur berkurang adalah mereka yang menyadari bahwa setiap orang diberi jatah umur oleh Allah, dan kehidupan yang sebenarnya bukanlah di dunia ini, tapi di akhirat nanti. Orang-orang yang masuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang mencari tenang di dunia, dan mencari senang di akhirat. Bagi mereka peristiwa mati bukan saja hal yang biasa, tetapi sudah suatu keharusan, sebagaimana keharusannya sesudah hari Senin adalah hari Selasa. Dengan demikian mereka senantiasa bersiap-siap untuk menyambut kematian tersebut. Sikap mereka ini sejalan dengan anjuran Rasulullaah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallaam, yaitu: “Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok”.

Tentang hadis yang saya kemukakan di atas, ada beberapa orang yang bingung memahaminya, ada beberapa orang yang salah memahaminya (sehingga mereka memisahkan antara aktivitas agama/ibadah dan aktivitas dunia), dan ada yang benar pemahamannya.
Mestinya gimana sih memahami hadis tersebut?
Menurut saya begini:
1. Tidak ada pembedaan/pemisahan antara aktivitas agama/ibadah dan aktivitas dunia.
2. Semua aktivitas dilaksanakan di dunia ketika masih hidup.
3. Yang membedakan antara aktivitas ibadah dan non ibadah hanyalah niyat (kesengajaan)nya.
4. Semua aktivitas adalah ibadah bila niyatnya karena Allah dan mengharap balasan dari Allah di akhirat nanti (yang tertinggi tentu saja mengharap cinta Allah).
5. Shalat, shaum, zakat, hajji bisa saja bukan lagi aktivitas ibadah bila niyat untuk mendapatkan hasil dunia (ketenteraman hati termasuk hasil dunia).
6. Dengan demikian istilah ‘ibadah shalat’, ‘ibadah shaum’, ‘ibadah hajji’ adalah istilah yang tidak tepat. Dan memang tidak ada rujukan dalilnya. Kalau utntuk aktivitas-aktivitas tersebut digunakan istilah ibadah, karena perintah Allah, maka harus juga pake istilah ‘ibadah ngantor’, ‘ibadah sekolah/kuliah’, ‘ibadah makan’, ‘ibadah mandi’, dan banyak lagi aktivitas-aktivits lain yang harus diberi embel-embel ibadah.
7. Jadi pengertian tentang anjuran Nabi tersebut adalah bahwa melakukan segala aktivitas harus dengan memperhitungkan dampak jangka panjangnya, karena kita akan hidup selama-lamanya. Tapi pada saat yang sama juga setiap aktivitas harus bernilai ibadah (setel niyatnya karena Allah yang suruh dan hanya mengharapkan balasan dari Allah di akhirat nanti).
8. Artinya setiap aktivitas harus selalu mengandung dua nilai karena memang selalu berdampak pada dua masa tersebut, yaitu harus selalu mengandung nilai duniawi, dan selalu mengandung nilai ukhrawi.

Kembali ke masalah ulang tahun.
Ada beberapa pertanyaan, berkaitan dengan peringatan dan segala sesuatu yang menyertainya.
Pertanyaan-pertanyaannya adalah:
1. Adakah gunanya mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ (dengan berbagai istilah deh)?
2. Adakah gunanya ‘mengingatkan pada kematian’ di tanggal lahir seseorang?
3. Adakah gunanya membuat segala sesuatu, termasuk makanan, minuman, pesta, dan lain-lain, dalam rangka ulang tahun seseorang?
4. Adakah gunanya mengingat hari lahir bagi yang bersangkutan?

Saya punya jawaban begini:
1. Tidak ada gunanya mengucapkan ‘selamat ulang tahun’, baik bagi yang mengucapkan maupun bagi yang menerimanya. ‘Berguna’ artinya adalah dampak positf bagi pelaku dan penerima di dunia dan di akhirat. Diucapkan tidak akan meningkatkan kualitas diri dan kualitas pengabdian bagi kedua belah pihak. Tidak diucapkan tidak akan menurunkan kualitas diri dan kualitas pengabdian bagi kedua belah pihak.
Mungkin ada yang protes dengan mengatakan bahwa itu kan gunanya untuk mempererat silaturahim dan untuk memperluas pergaulan.
Saya seratus persen tidak percaya dengan pendapat itu, karena bertahun-tahun saya tidak menerima ucapan itu dan tidak memberi ucapan itu. Toh teman saya bertambah banyak dan silaturahim dengan mereka baik-baik saja, bahkan meningkat, ketika kepedulian saya terhadap nasib mereka saya tingkatkan. Jadi gak hubungannya dengan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’.
2. Ada gunanya. Tetapi kenapa hanya di tanggal lahirnya? Kenapa tidak sering-sering? Bukankah kita dianjurkan untuk berbuat seolah-olah mati besok? Kenapa hanya setahun sekali?
Mungkin ada yang menjawab: “kan lebih baik setahun sekali daripada tidak sama sekali”.
Saya jawab begini: “Kalau pake pemikiran ‘daripada’, maka tidak ada perbuatan yang salah. Shalat setahun sekalipun lebih baik daripada tidak shalat sama sekali. Kenapa demikian? Karena pemikiran ‘daripada’ adalah pemikiran yang selalu mengacu kepada yang lebih jelek. Kalu pembandingnya adalah yang lebih jelek, maka yang dibandingkan pasti selalu berada pada posisi lebih baik.
Jadi pemikiran yang benar adalah mengacu kepada standar yang sudah ditetapkan Allah dan RasulNya. Selama masih berada di bawah standar tersebut, maka tetap belum baik, tetap belum benar.
Jadi jawaban dari pertanyaan kedua: Meskipun ada gunanya, tetapi karena hanya setahun sekali ya salah juga. Nyontoh siapa itu, kok tiap ulang tahun doang?
3. Tidak ada gunanya, karena tanpa itu semua gak ada masalah. Hanya tidak sesuai dengan keinginan, bukan tidak sesuai dengan kebutuhan.
4. Ada gunanya mengingat hari lahir, bila untuk evaluasi diri tahunan. Kalu ada istilah evaluasi tahunan, berarti harus ada juga evaluasi diri bulanan, evaluasi diri pekanan (mingguan), dan evaluasi diri harian. Kalu hanya evaluasi diri tahunan, maka amat sangat nyaris sekali tidak ada gunanya. Nabi memerintahkan kita untuk mengevaluasi diri sebelum nanti dievaluasi. Artinya, lagi-lagi, setiap saat siap mati.

Dari jawaban-jawaban di atas, maka saya menyimpulkan bahwa peringatan ulang tahun TIDAK ADA GUNANYA. Mubaazir. Kata Allah (dalam surat Al Isra’/17 ayat 27) para mubazir itu saudara syaithan.

Setelah membaca tulisan ini, saya anjurkan anda semua (yang terbiasa dengan aktivitas ulang tahun, baik untuk diri sendiri maupun orang lain), untuk menanyakan ke diri sendiri.; “Seandainya kebiasaan ini saya tinggalkan, apa ruginya saya sebagai hamba Allah (bukan hamba hawa nafsu ya..).

Oh ya. Satu lagi.
Makhluk pertama yang minta dipanjangkan umurnya adalah Iblis. Jadi kalau kita minta panjang umur atau mendo’akan panjang umur, berarti meneruskan tradisi iblis. Mau?

Sekian saja cerita saya tentang ulang tahun, semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum.