Kamis, 21 Juli 2011

INI BUKAN URUSAN AHLI FIQIH

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Kalau menurut Muhammadiyah, tanggal 1 Agustus 2011. Kayaknya pemerintahpun begitu.
Penentuan masuknya bulan baru selalu dilakukan dengan perhitungan (hisab) dan melihat bulan (ru’yah). Yang mana yang benar?
Saya mau cerita satu contoh tentang hisab dan ru’yah, tapi bukan tentang penentuan awal bulan. Hisab dan ru’yah ini dilakukan untuk menentukan terjadinya gerhana matahari total.

Cerita ini saya salin persis dari buku yang berjudul:
K U T
KA’BAH UNIVERSAL TIME
REINVENTING
THE MISSING ISLAMIC TIME SYSTEM

PENEMUAN-ULANG
SISTEM TATA-WAKTU ISLAM
YANG HILANG

Cerita ini terdapat di halaman 69 sampai dengan 70. (Penulis buku ini adalah Bambang E. Budhiyono). Begini tulisan beliau:
Penulis mempunyai pengalaman yang menakjubkan ketika secara online melalui media internet mengikuti peristiwa gerhana matahari total (total solar eclipse) yang hanya dapat diamati dari wilyah Karibia (Amerika Tengah). Peristiwa gerhana matahari total dapat dikatakan lebih rumit daripada peristiwa penampakan hilal, yang keduanya sama-sama berkaitan dengan orbit dan posisi bulan (moon) di langit. Para pakar NASA (Badan Antariksa Amerika Serikat) beberapa bulan sebelumnya memperkirakan (sebut saja meng–hisab) berdasarkan perhitungan astronomis dan mengumumkannya melalui situs www.nasa.gov, bahwa detik-detik peristiwa gerhana matahari total tersebut akan terjadi lepas tengah hari Kamis, tanggal 26 Pebruari 1998, pukul 13:17:30,36, menurut waktu standar setempat. Jika disesuaikan dengan standar waktu tempat kedudukan penulis (Kota Bogor), waktu tersebut sama dengan dinihari Jum’at, tanggal 27 Februari 1998, pukul 01:17:334,21.
Untuk mengikuti kejadian alam yang sangat langka ini – karena peristiwa tersebut merupakan gerhana matahari total terakhir dalam abad ke-20, penulis menyelaraskan sistem jam digital (digital clock) dan jam komputer (computer clock) secara sangat cermat, yakni langsung menghubungkan komputer di rumah dengan sistem jam komputer server di observatorium Poerto Rico (kawasan Karibia) melalui stasiun repeater di Pasadena (California) dan Sydney (Australia) atas bantuan rekan-rekan Astronom Amatir dari California.
Setelah mengikuti proses perjalanan matahari dalam lintasan yang membentang diagonal layar monitor komputer selama lebih dari dua jam tanpa putus (sebut saja sedang me-ru’yah gerhana matahari secara remote), tibalah detik-detik yang menakjubkan dan sekaligus mendebarkan. Gerhana matahari total, yang ditandai dengan gelap totalnya cahaya matahari di balik bulan yang hanya meniggalkan semburat corona di sekeliling lingkaran hitam (badan bulan) yang – subhanallaah -... tak terbayangkan indahnya, tepat terjadi pada pukul 01:17:334,13 waktu Bogor, atau meleset (lebih awal) 0,08 detik!
Artinya, beda-waktu antara hisab falaqiyah (hasil perhitungan atau perkiraan astronomis beberapa waktu sebelumnya) dengan ru’yah (pengamatan langsung) hanya 0,08 (delapan per seratus) detik! Semuanya terjadi dengan damai, orbit dan posisi bulan di antara bumi dan matahari dapat di-hisab dan di¬-ru’yah secara tepat dan menakjubkan tanpa ada silang-pendapat antara para astronom di seluruh dunia.
Itulah ceritanya.

Dari cerita di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa penampakan bulan bisa diperkirakan kapan akan terjadi dan dimana bisa dilihat. Dalam buku yang saya kutip, dikatakan bahwa ada daerah-daerah dimana terjadi penampakan hilal terbaik (the best crescent visibility) dan penampakan hilal baik (good crescent vixibility). Indonesia bisa jadi tidak termasuk dalam kedua daerah itu dalam suatu tahun tertentu.
Untuk menentukan dimana lokasi untuk melihat hilal dalam penampakan terbaiknya dan kapan waktu yang tepat untuk melihat hilal dengan penampakan terbaik, bukanlah wilayah kajian ahli fiqih. Itu adalah wilayah kajian para ahli astronomi. Kenapa? Karena bulan adalah salah satu benda langit, yang fenomenanya (sunnatullah yang berlaku padanya) tidak dipelajari oleh ilmu fiqih, tetapi dipelajari oleh ilmu falaq (astronomi). Meng-hisab kapan dan dimana terjadinya penampakan hilal terbaik dan baik jauh lebih mudah daripada meng-hisab kapan dan dimana terjadi gerhana matahari total, karena penampakan hilal terbaik dan baik terjadi setiap bulan tanpa henti sejak Allah menciptakannya.

Lalu kenapa kok masih pada ribut tentang kapan mulai shaum dan lebaran? Kenapa kok antara hasil hisab dan hasil ru’yah bisa berbeda sampai 24 jam (86.400 detik)?
Kemungkinan pertama, mereka yang bukan ahli astronomi (ilmu falaq) yang melakukan hisab, sehingga hasilnya sangat jauh dari benar.
Kemungkinan kedua, mereka yang melakukan ru’yah tidak pernah tau (atau bahkan tidak pernah mau tau) bahwa Indonesia bisa saja bukan wilayah penampakan hilal terbaik dan bukan juga wilayah penampakan hilal baik. Dan mereka tidak memperhitungkan terlebih dahulu dimana penampakan hilal terbaik dan baik.
Kemungkinan ketiga, ilmu yang digunakan oleh para peng-hisab adalah ilmu yang sudah kedaluwarsa, dan tidak pernah di update (berbeda dengan ilmu yang digunakan oleh para astronom di NASA dalam cerita di atas), sehingga hasilnya ya... meleset.
Kemungkinan keempat, yang melakukan hisab bukan ahli astronomi (ilmu falaq) dan mereka menggunakan ilmu yang sudah kedaluwarsa.

Manapun di antara keempat kemungkinan tersebut, yang jelas sampai saat ini kita belum mendapatkan hasil ru’yah yang hanya berbeda beberapa detik dengan hasil hisab.

Jadi sebenarnya, hisab dan ru’yah bukan urusan ahli fiqih, atau menurut istilah yang lebih populer, bukan urusan AHLI AGAMA (???). Ini urusan ahli astronomi.
Majelis Ulama Indonesia atau Departemen Agama hanya mengumumkan kapan mulai shaum dan lebaran bedasarkan hasil ru’yah, yang didahului dengan hisab tentang tempat dan waktu melakukan ru’yah. Sedang penentuan (hisab) waktu dan tempat ru’yah dilakukan oleh para ahli astronomi (ilmu falaq) dengan menggunakan ilmu yang akurat, sebagaimana yang digunakan oleh para astronom dari NASA.
Karena Indonesia belum tentu termasuk wilayah penampakan hilal terbaik dan baik, maka hasil hisab tentang tempat penampakan hilal terbaik dan baik bisa jadi bukan di Indonesia. Dengan demikian maka ru’yah pun dilakukan mungkin tidak di Indonesia.
Mungkin ada yang bertanya: “Dimana wilayah penampakan Hilal terbaik dan baik?”
Untuk mengetahui ini, silahkan gunakan software MoonCal versi 5 hasil karya Dr. Monzur Ahmed. Software ini bisa diunduh (download) melalui internet. Kata kuncinya Monzur Ahmed.

Jadi...
Penentuan satu Ramadhan dan satu Syawwal bukanlah urusan ahli fiqih atau Majelis Ulama atau Departemen Agama. Mereka hanya mengumumkan hasil ru’yah berdasarkan hisab yang dilakukan orang yang ahli dalam bidang tersebut (astronom atau ahli ilmu falaq) dengan menggunakan ilmu yang up to date (gak kedaluwarsa).

Sekian
Wassalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakatuh.