Jumat, 22 Juli 2011

MASALAH KEIMANAN UMAT

A. LATAR BELAKANG KAJIAN.
Di berbagai tempat di dunia ini komunitas muslim menjadi bulan-bulanan orang-orang yang memusuhi Islam dan umatnya.
Komentar yang sering terdengar adalah perilaku dan kekejaman musuh-musuh kaum muslimin terhadap kaum muslimin. Nyaris tidak pernah terdengar adanya komentar atau pertanyaan yang berkaiatan dengan kualitas umat Islam sehingga musuh-musuh Islam dapat dengan semena-mena memperlakukan dan menyiksa umat Islam.
Padahal Allah sudah memberitahukan dalam surat Ali Imran (3) ayat 139 bahwa orang yang beriman adalah orang yang paling tinggi derajatnya.
Padahal juga fakta sejarah menunjukkan bahwa dengan modal Iman yang benar (mu’minun al-haq/surat 8 ayat 2), umat Islam yang bersatu dalam satu kekhalifahan telah mampu menguasai dua per tiga dunia dalam waktu tujuh abad. Tak ada imperium sebelum dan sesudah kekhalifahan yang menguasai wilayah sedemikian luas dengan waktu yang begitu lama.
Kenyataan akan kelemahan kaum muslimin hari ini, sehingga menjadi bulan-bulanan musuhnya, menuntut kita untuk mencari sebab di dalam diri kaum muslimin, dan bukan sebab di luar diri kita, karena Allah sudah menegaskan dalam surat 53 ayat 39, bahwa seseorang tidak memperoleh melainkan hasil dari usaha dia. Dan juga Allah sudah sejak lama memberitahukan dalam surat 13 ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga kaum itu mengadakan perubahan terhadap apa yang ada dalam dirinya.
Cerita yang disampaikan Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 14 patut menjadi renungan kita. Jangan-jangan kita memang belum berhak mengaku diri beriman. Kalau memang demikian adanya, maka bukan kenyataan yang mengherankan bila kita menjadi bulan-bulanan dan barang mainan musuh-musuh Allah dan RasulNya.

B. CIRI-CIRI MU’MIN MENURUT ALLAH
a. Amat sangat mencintai Allah (2:165)
b. Dengar dan taat terhadap setiap Firman Allah dan Sabda Rasul (2:285)
c. Tergetar qalbu bila disebut Allah (8:2)
d. Bertambah iman bila dibacakan ayt-ayat Allah (8:2)
e. Tawakkal hanya pada Allah (8:2)
f. Mendirikan shalat (8:3)
g. Khusyu’ dalam shalat (23:2)
h. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berguna (23:3)
i. Menunaikan zakat (23:4)
j. Memelihara kemaluan (23:5, 6, 7)
k. Memelihara amanat dan janji (23:8)
l. Memelihara shalat (6:92; 23:9)
m. Tidak ragu, jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah (49:15)
n. Tenteram qalbu (tidak lagi gelisah) bila zikrullah (13:28)

Pada kesempatan ini hanya akan dibahas emat ciri saja, yaitu a, f, g, dan l.

a. Amat sangat mencintai Allah (surat Al Baqarah ayat 165):

وَ مِنَ آلنّا سِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ آللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ آللهِصلى
وَآلَّذِيْنَ أَمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ قلت
Dan di antara manusia ada yang mengambil/menjadikan selain Allah tandingan-tandingan, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.
Dan orang-orang beriman itu amat sangat mencintai Allah

Ciri Cinta:
- Rindu/selalu ingin bertemu.
- Rela berkorban.
- Selalu berusaha menyenangkan/membahagiakan hatinya.


f. Mendirikan Shalat (surat Al Anfaal ayat 3):

إِنَّمَا آلْمُؤْمِنُوْنَ آلَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ أللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إُيْمَانًا وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَلُوْنَ (2)
آلَّذِيْنَ يُقِيْنُوْنَ آلصَّلَوةَ وَ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3)
(2) Bahwasanya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang jka diingatkan/disebut Allah tergetar qalbu mereka, dan jika dibacakan ayat-ayat Allah bertambah iman mereka, dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.
(3) Orang-orang yang mendirikan shalat dan terhadap rizki yang kami telah berikan, mereka menginfakkannya

Beda antara mengerjakan shalat dan mendirikan shalat:
- Mengerjakan shalat: yang penting selesai, lalu mengharap upah (pahala). Seperti tukang yang mengerjakan rumah yang sedang dibangun. Tidak peduli tentang mutu. Yang penting selesai, lalu minta upah.
- Mendirikan/menegakkan shalat: Yang penting sempurna. Selalu merasa dan meyakini shalatnya masih belum benar. Seperti pemilik rumah yang sedang dibangun. Senantiasa jeli melihat yang kurang. Tak pernah meras puas dengan hasil yang sudah dicapai.

g. Khusyu dalam shalat suart Al Mu’minun ayat 2):

قَدْ أَفْلَحَ آلْمُؤْمِنُوْنَ (1) آلَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ (2)

1. Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman.
2. Orang-orang yang dalam shalat mereka khusyu’ (tunduk)


Tingkatan pelaksana shalat:
- دَاءِمٌ (Pembiasa)
- حَافِظٌ (pemelihara)
- خَاشِعٌ (khusyu’)


l. Memelihara Shlat (surat Al An’am ayat 92):
وَآلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِآلأَخِرَةِ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ صلى وَهُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ
Dan orang-orang yang beriman terhadap akhirat beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka terhadap shalatnya memelihara
Yang dipelihara dalam mendirikan shalat:
- Waktu. Di awal waktu, bukan pada waktunya.
- Kebersihan pakaian dan tempat.
- Kebenaran ucapan dan gerakan.
- Kesopanan.
- Niyat.

Tambahan:
1. Tingkatan dari Keinginan yang melintas sampai dengan Niyat:
- هَجْسٌ (keinginan yang melintas di hati).
- هِمًّةٌ (keinginan yang menetap di hati).
- إِرَدَةٌ (rencana)
- عَزْمٌ (tekad)
- قَصْدٌ (maksud, sudah bersiap-siap)
- نِيَّةٌ (kesengajaan).

2. Shalat untuk Siapa dan untuk apa?
Shalat untuk Siapa? Untuk Rabbmu (surat 103 ayat 2).
فَصَلِ لٍرَبِكَ وَآنْحَرْ
Shlat untuk apa? Untuk Dzikrullah (surat 20 ayat 14).
إِنَنِيْ أَنَا آلله لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَآعْبُدْ نِيْ وَأَقِمِ آلصَّلَوةَ لِذِكْرِيْ
3. Bagaimana dzikrullah itu?
- Tidak mungkin pakai otak, karena sesuatu yang dapat diingat dengan otak adalah yang mungkin (possible) untuk dibayangkan.
- Bila dikatakan mengingat “Kebesaran” Allah, ketika shalat kita tidak mungkin dalam keadaan sedang mengingat kebesaran Allah.
- Orang yang khusyu’ adalah orang yang (surat 2:46)
أَنَّهُمْ (merasakan) يَظُنُّوْنَ
رَبِّهِمْ (dipertemukan) مُلاَقُوْآ
(orang yang kembali/subjek) وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
- Jadi ذِكْرُآللهadalah berbicara dengan Allah.
- Wirid ≠ ذِكْرُآلله

C. KONDISI NYATA KEIMANAN UMAT ISLAM.
Mari kita bahas bersama. Terutama mari kita lihat ke dalam diri kita masing-masing. Itulah kondisi nyata yang kita alami sekarang.

ULANG TAHUN

Hari ini saya mendapat banyak ucapan selamat ulang tahun, karena saya lahir tanggal 25 November 1957.
Macam-macam ucapan yang mereka kemukakan. Ada yang selamat milad, selamat ulang tahun, prihatin karena semakin dekat ke liang kubur. Ada juga yang pake do’a.
Untuk semua itu saya ucapkan terimakasih. Bukan berterimakasih atas ucapan selamat ulang tahunnya, tapi terimakasih atas perhatian dan kepeduliannya kepada saya.

Yang akan saya bahas pada kesempatan kali ini adalah tentang peringatan hari lahir (sebagian orang mengatakan peringatan ulang tahun) dan segala kegiatan yang menyertainya.

Satu hal yang sangat berbeda dengan ajaran Islam adalah pemahaman tentang umur. Kebanyakan yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya memahami bahwa umur saya bertambah. Memang umur hidup (umur pakai) bertambah. Tetapi itu kan juga berarti bahwa sisa umur yang masih ada jadi berkurang.
Kenapa terjadi perbedaan pemahaman (yang menurut saya sangat prinsip) tentang umur?
Jawaban yang saya dapatkan adalah bahwa:
1. Mereka yang menganggap BERTAMBAH umur, sehingga layak mendapat ucapan selamat, adalah karena, sadar atau tidak, mereka menganggap bahwa kehidupan hanya ada di dunia ini. Atau paling tidak mereka adalah termasuk orang yang mencari senang dunia. Sangat mungkin orang-orang yang demikian sangat kurang persiapan untuk menghadapi kematian, sehingga peristiwa mati adalah peristiwa yang menakutkan, yang sedapat mungkin dihindari (mau lari kemana???).
2. Sedangkan mereka yang menganggap jatah umur/sisa umur berkurang adalah mereka yang menyadari bahwa setiap orang diberi jatah umur oleh Allah, dan kehidupan yang sebenarnya bukanlah di dunia ini, tapi di akhirat nanti. Orang-orang yang masuk dalam kelompok ini adalah orang-orang yang mencari tenang di dunia, dan mencari senang di akhirat. Bagi mereka peristiwa mati bukan saja hal yang biasa, tetapi sudah suatu keharusan, sebagaimana keharusannya sesudah hari Senin adalah hari Selasa. Dengan demikian mereka senantiasa bersiap-siap untuk menyambut kematian tersebut. Sikap mereka ini sejalan dengan anjuran Rasulullaah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallaam, yaitu: “Berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selama-lamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok”.

Tentang hadis yang saya kemukakan di atas, ada beberapa orang yang bingung memahaminya, ada beberapa orang yang salah memahaminya (sehingga mereka memisahkan antara aktivitas agama/ibadah dan aktivitas dunia), dan ada yang benar pemahamannya.
Mestinya gimana sih memahami hadis tersebut?
Menurut saya begini:
1. Tidak ada pembedaan/pemisahan antara aktivitas agama/ibadah dan aktivitas dunia.
2. Semua aktivitas dilaksanakan di dunia ketika masih hidup.
3. Yang membedakan antara aktivitas ibadah dan non ibadah hanyalah niyat (kesengajaan)nya.
4. Semua aktivitas adalah ibadah bila niyatnya karena Allah dan mengharap balasan dari Allah di akhirat nanti (yang tertinggi tentu saja mengharap cinta Allah).
5. Shalat, shaum, zakat, hajji bisa saja bukan lagi aktivitas ibadah bila niyat untuk mendapatkan hasil dunia (ketenteraman hati termasuk hasil dunia).
6. Dengan demikian istilah ‘ibadah shalat’, ‘ibadah shaum’, ‘ibadah hajji’ adalah istilah yang tidak tepat. Dan memang tidak ada rujukan dalilnya. Kalau utntuk aktivitas-aktivitas tersebut digunakan istilah ibadah, karena perintah Allah, maka harus juga pake istilah ‘ibadah ngantor’, ‘ibadah sekolah/kuliah’, ‘ibadah makan’, ‘ibadah mandi’, dan banyak lagi aktivitas-aktivits lain yang harus diberi embel-embel ibadah.
7. Jadi pengertian tentang anjuran Nabi tersebut adalah bahwa melakukan segala aktivitas harus dengan memperhitungkan dampak jangka panjangnya, karena kita akan hidup selama-lamanya. Tapi pada saat yang sama juga setiap aktivitas harus bernilai ibadah (setel niyatnya karena Allah yang suruh dan hanya mengharapkan balasan dari Allah di akhirat nanti).
8. Artinya setiap aktivitas harus selalu mengandung dua nilai karena memang selalu berdampak pada dua masa tersebut, yaitu harus selalu mengandung nilai duniawi, dan selalu mengandung nilai ukhrawi.

Kembali ke masalah ulang tahun.
Ada beberapa pertanyaan, berkaitan dengan peringatan dan segala sesuatu yang menyertainya.
Pertanyaan-pertanyaannya adalah:
1. Adakah gunanya mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ (dengan berbagai istilah deh)?
2. Adakah gunanya ‘mengingatkan pada kematian’ di tanggal lahir seseorang?
3. Adakah gunanya membuat segala sesuatu, termasuk makanan, minuman, pesta, dan lain-lain, dalam rangka ulang tahun seseorang?
4. Adakah gunanya mengingat hari lahir bagi yang bersangkutan?

Saya punya jawaban begini:
1. Tidak ada gunanya mengucapkan ‘selamat ulang tahun’, baik bagi yang mengucapkan maupun bagi yang menerimanya. ‘Berguna’ artinya adalah dampak positf bagi pelaku dan penerima di dunia dan di akhirat. Diucapkan tidak akan meningkatkan kualitas diri dan kualitas pengabdian bagi kedua belah pihak. Tidak diucapkan tidak akan menurunkan kualitas diri dan kualitas pengabdian bagi kedua belah pihak.
Mungkin ada yang protes dengan mengatakan bahwa itu kan gunanya untuk mempererat silaturahim dan untuk memperluas pergaulan.
Saya seratus persen tidak percaya dengan pendapat itu, karena bertahun-tahun saya tidak menerima ucapan itu dan tidak memberi ucapan itu. Toh teman saya bertambah banyak dan silaturahim dengan mereka baik-baik saja, bahkan meningkat, ketika kepedulian saya terhadap nasib mereka saya tingkatkan. Jadi gak hubungannya dengan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’.
2. Ada gunanya. Tetapi kenapa hanya di tanggal lahirnya? Kenapa tidak sering-sering? Bukankah kita dianjurkan untuk berbuat seolah-olah mati besok? Kenapa hanya setahun sekali?
Mungkin ada yang menjawab: “kan lebih baik setahun sekali daripada tidak sama sekali”.
Saya jawab begini: “Kalau pake pemikiran ‘daripada’, maka tidak ada perbuatan yang salah. Shalat setahun sekalipun lebih baik daripada tidak shalat sama sekali. Kenapa demikian? Karena pemikiran ‘daripada’ adalah pemikiran yang selalu mengacu kepada yang lebih jelek. Kalu pembandingnya adalah yang lebih jelek, maka yang dibandingkan pasti selalu berada pada posisi lebih baik.
Jadi pemikiran yang benar adalah mengacu kepada standar yang sudah ditetapkan Allah dan RasulNya. Selama masih berada di bawah standar tersebut, maka tetap belum baik, tetap belum benar.
Jadi jawaban dari pertanyaan kedua: Meskipun ada gunanya, tetapi karena hanya setahun sekali ya salah juga. Nyontoh siapa itu, kok tiap ulang tahun doang?
3. Tidak ada gunanya, karena tanpa itu semua gak ada masalah. Hanya tidak sesuai dengan keinginan, bukan tidak sesuai dengan kebutuhan.
4. Ada gunanya mengingat hari lahir, bila untuk evaluasi diri tahunan. Kalu ada istilah evaluasi tahunan, berarti harus ada juga evaluasi diri bulanan, evaluasi diri pekanan (mingguan), dan evaluasi diri harian. Kalu hanya evaluasi diri tahunan, maka amat sangat nyaris sekali tidak ada gunanya. Nabi memerintahkan kita untuk mengevaluasi diri sebelum nanti dievaluasi. Artinya, lagi-lagi, setiap saat siap mati.

Dari jawaban-jawaban di atas, maka saya menyimpulkan bahwa peringatan ulang tahun TIDAK ADA GUNANYA. Mubaazir. Kata Allah (dalam surat Al Isra’/17 ayat 27) para mubazir itu saudara syaithan.

Setelah membaca tulisan ini, saya anjurkan anda semua (yang terbiasa dengan aktivitas ulang tahun, baik untuk diri sendiri maupun orang lain), untuk menanyakan ke diri sendiri.; “Seandainya kebiasaan ini saya tinggalkan, apa ruginya saya sebagai hamba Allah (bukan hamba hawa nafsu ya..).

Oh ya. Satu lagi.
Makhluk pertama yang minta dipanjangkan umurnya adalah Iblis. Jadi kalau kita minta panjang umur atau mendo’akan panjang umur, berarti meneruskan tradisi iblis. Mau?

Sekian saja cerita saya tentang ulang tahun, semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum.

NYARI PAHALA??? GAK AH....

Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

Banyak diantara orang yang bergama Islam ketika melaksanakan perintah Allah mengharap pahala yang telah dijanjikan Allah bagi para pelaksana perintah Allah. Kata dalam bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai “pahala” adalah AJRUN. Arti yang tepat adalah IMBALAN. Sedangkan kata JAZAA’ lebih tepat bila diterjemahkan dengan BALASAN, karena jazaa’ bisa karena taat kepada Allah maupun karena tidak taat kepada Allah (lhat misalnya dalam surat 23/ Al-Mu’minun ayat 111 untuk balasan ketaatan dan surat 34/Sabaa’ ayat 17 untuk balasan ketidaktaatan).
Dalam hadis-hadis yang membicarakan tentang ajrun, tidak disebutkan bentuk ajrun itu bagaimana. Yang disebutkan hanya jumlahnya, atau kuantitasnya. Misalnya shalat berjamaah lebih baik 27 kali daripada shalat sendiri. Misalnya lagi membaca Al Qur’an dalam keadaan tidak berwudhu imbalannya 10 kebaikan tiap hurufnya, membaca Al Qur’an dalam keadaan berwudhu imbalannya 25 kebaikan setiap hurufnya, dan membaca Al Qur’an di dalam shalat imbalannya 50 kebaikan setiap hurufnya. Banyak contoh-contoh lainnya yang tidak saya sebutkan di sini.
Berdasarkan hadis-hadis tentang ajrun itu maka sebagian orang Islam menjalankan perintah Allah dengan motivasi mendapatkan ajrun.

Pertanyaannya adalah: “Apakah ajrun itu tujuan berbuat, atau hanya hasil/konsekuensi dari berbuat?”

Timbulnya pertanyaan ini karena ikrar para pelaksana shalat ketika mengucapkan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah hanya kepada Allah dia mengabdi. Jadi bukan kepada kepentingan dirinya. Mengabdi bukanlah menjadi buruh, yang setelah bekerja menerima upah. Mengabdi adalah menjadi abdi. Seorang abdi berbuat untuk menyenangkan hati sang tuan (rabb), karena seluruh keperluan hidupnya sudah ditanggung dan diurus oleh tuannya. Jadi tujuan pengabdi dalam berbuat adalah agar sang tuan SENANG atau dalam bahasa Arabnya RIDHA.
Sayangnya terjemahan dari na’budu yang ditulis di dalam kebanyakan terjemahan Al-Qur’an adalah menyembah. Padahal aksi menyembah terlalu sempit dibanding dengan mengabdi, dan bahasa Arabnya jelas-jelas menggunakan kata “ABADA, yang artinya mengabdi.
Jadi kalau mengabdi kepada Allah, sesuai dengan ikrar yang diucapkan di tiap rakaat shalat, maka tujuan menaati Alah bukan untuk mendapat imbalan-imbalan, tetapi agar Allah senang (ridha).
Apalagi kalau kita mengacu pada surat al Baqarah (surat 2) ayat 165, bahwa ciri orang yang beriman itu adalah AMAT SANGAT CINTA KEPADA ALLAH (ASYADDU HUBBALILLAAH). Karena amat sangat cinta kepada Allah maka orang beriman itu dalam menaati Allah sama sekali tidak berfikir tentang pahala (ajrun). Tujuannya berbuat semata-mata Allah senang (ridha), karena bila sudah mencintai, maka berusaha membahagiakan. Asalkan Allah sudah senang (ridha) dengan apa yang dia lakukan, maka baginya sudah cukup. Hatinya senantiasa merindukan Allah, dan senantiasa berharap Allah memandangnya dengan penuh senyum, kasih sayang, dan cinta. (Lihat juga surat 2 ayat 207).
Dari uraian tentang ikrar dan ciri mu’min yang sangat cinta kepada Allah, maka tahulah kita bahwa seharusnya ajrun (pahala) bukanlah tujuan taat, bukan sesuatu yang dicari, bukanlah sesuatu yang diharap. Pahala atau ajrun adalah dampak positif (hasil/konsekuensi) dari berbuat. Dijadikan atau tidak dijadikan tujuan, pasti akan didapat, asalkan proses yang dilalui sudah memenuhi syarat. Permisalannya kira-kira seperti kita makan ketika sedang lapar. Kenyang adalah dampak positif atau konsekuensi logis dari makan, bila proses yang dilalui memenuhi syarat. Dijadikan atau tidak dijadikan tujuan, kenyang akan dialami oleh orang-orang yang makan. Tapi ridha Allah tidak akan didapat dari aktivitas makan, bila ridha Allah tidak dijadikan tujuan.
Oleh karena itu saya berani mengatakan bahwa sangat rugilah orang yang mengejar pahala, karena ikrar dia kepada Alah dia langgar. Mungkinkah dia mendapatkan ajrun dari Allah bila ikrarnya kepada Allah saja sudah dilanggar? Dan juga saya berani mengatakan bahwa amat bodohlah orang yang menjadikan “mendapat pahala” sebagai tujuan menaati Allah, karena dijadikan atau tidak dijadikan tujuan, ajrun itu tetap didapat bila proses yang dilalu sudah memenuhi syarat. Yang perlu kita ketahui adalah proses yang benar dalam menaati Allah, agar ridha Allah dan ajrun didapat.

Lalu apa hubungannya uraian ini dengan judulnya di atas?
Hubungannya begini:
Jauhi diri dari motivasi mencari pahala (ajrun) ketika menataati Allah, karena pahala pasti dapat kalau apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Pelajari apa dan bagaimana kehendaki Allah terhadap para pelaku “taat” kepada Allah (saya tidak menggunakan hamba Allah, karena kita belum tentu hamba Allah. Ada ciri-ciri khusus hamba Allah. Lihat sura Al Furqan/25 ayat 63 sampai dengan 74).
Carilah senang (ridha)nya Allah. Berusahalah agar Allah senang ketika dan karena kita melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita untuk melaksanakannya, atau meninggalkan perbuatan yang disuruhNya kita untuk meninggalkannya.
Kalau ketiga hal di atas kita lakukan dengan benar maka “pahala” pasti dapat tanpa harus kita jadikan tujuan, dan tanpa harus kita cari.
Jadilah pengabdi, jangan jadi kuli.

Sekian uraian ringkas saya.
Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh

DUNIA HASANAH

Reference:
Al Qur’an – Al Baqarah: 38.
‘Who follows my guidance surely there is no anxiety/worry in his/her heart and he/she will not be disappointed/sad”

From the above reference we can understood that the features or indications which indicated some one has “dunia hasanah” are:
1. He or she almost never felt anxiety or worry about his or her future life.
2. He or she almost never disappointed or sad in every condition and situation of his or her life.

How could we embrace that situation or condition?

The answers are:

1. If we are always aware (not just knowing) that the real true life is not here, not now, not in our world now, but in a world hereafter.

2. To always prepare ourselves for our future life in the hereafter. And we will receive all conditions, situations, and realities here as the opportunities to get the best life in the hereafter.

3. To never put our hope to get happiness in this present world, like we never put our hope to getting happiness when we were in school. We were hoping to get happiness after we earn our credentials after school.

4. To believe and take all the conditions, situations, and realities that we are facing in this world as a lesson for us, and as the opportunities to get the best life (happiness) in the hereafter.

5. If we are aware that our true life is not here, not in our world now, we will never say or believe that we have had success or have failed while we are still alive. The students will not say they have succeeded or had failed when they are still students. Football teams in a competition will only realized they have won or lost after the match, but not during the match.

6. Al the true realities, success, failures, win, or lose will be taken when we are in the world hereafter.

7. If we are the heaven’s occupants, we are successful, or we are the winner.
If we are the hell’s occupants, we have failed, or we are the looser.

8. If we are able to differentiate between needs/necessities and wish/longing/desire, than we will be aware what in real sense what our PROBLEM means. and we really know what the meaning of PROBLEM.


(to be continued)

BENAR, MUTLAK, dan BISA DIPERCAYA, jilid 3 (cerita lama)

Assalamu’alaikum.

Terlambat untuk posting jilid ke tiga nih. Lagi gak ada semangat untuk nulis.

Jilid ke dua ditutup dengan pertanyaan:
Siapakah A itu? Siapakah Yang Benar, Yang Mutlak, dan Yang Bisa Dipercaya itu?
Allah, Tuhan, God, Rabb, Thian, Sang Hyang Widhi, Tuhan Bapa, Jahwe, Jehovah, atau yang lain-lainnya?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita cari tau dulu tentang ciri atau karakter A yang lagi kita omongin ini.

Ciri-cirinya adalah:
1. Mutlak (Absolute)
2. Tidak ada yang menyamai (Distinct)
3. Maha Esa (Unique).

Kenapa tidak ada yang menyamai?
Karena hanya satu yang bersifat mutlak itu. Ini udah dibahas di jilid ke dua.

Saya gunakan istilah Maha Esa, karena yang dimaksud adalah SATU-SATUNYA dan tidak terdiri dari unsur-unsur (elemen-elemen). Saya gak tau istilah lain yang tepat dalam bahasa Indonseia untuk menyatakan keberadaan yang demikian.

Adakah Subjek yang berciri demikian?
Udah dibahas juga di jilid ke dua bahwa keberadaannya tidak bisa dibantah.

Kalo ada:
Darimana Dia?
Dimana Dia?
Mau kemana Dia?

Semua pertanyaan itu hanya berlaku bagi yang tidak mutlak, kalau yang dimaksud adalah tempat dalam bentuk fisik (ruang), dan perjalanan dalam wawasan waktu yang kita kenal (perhitungan berdasarkan perputaran bumi mengelilingi sumbunya).
Jadi bagi Subjek yang bersifat Mutlak tidak berlaku pertanyaan darimana, dimana, mau kemana.
Hanya ada satu kata untuk menyatakan keberadaan Dia, yaitu ADA.
Dia ADA sebelum kata ‘ada’ itu ada, dan dia tetap ADA walaupun kata ‘ada’ itu sudah tidak ada.

Lalu siapa Dia yang Mutlak, Tidak ada yang menyamai, dan Maha Esa itu?
Berbagai sebutan dipakai orang untuk memanggil Dia:
Tuhan, God, Thian, Rabb, Tuhan Bapa, Sang Hyang Widhi, Jahwe, Jehovah, Allah.
(ini yang saya tau).
Yang mana yang bener? Semua? Gak mungkin, karena sifat-sifat detail dari masing-masingnya gak sama. Pasti yang bener hanya satu. Cara taunya gimana?

Selama kita menggunakan fikiran kita untuk mencari tau siapa Dia, gak bakal dapat jawaban yang benar dan bisa dipercaya. Kenapa? Karena hasil pemikiran kita, hasil perenungan kita, semua relatif. Sangat berpeluang untuk mengalami perubahan. Lha perenungan yang kapan yang benar? Kita udah mati aja, ada koreksinya dari orang lain.

Trus gimana caranya supaya kita dapat jawaban yang benar tentang:
- Siapa Dia?
- Bagaiamana keberadaanNya?
- Bagaiamana sifat dan kehendakNya?
- Bagaimana cara berhubungan dengan Dia?

Gak ada lain caranya selain: DIA YANG NGASI TAU..
Pemberitahuan dari Dia kita kenal dengan istilah WAHYU.
Setahu saya ada 6 (enam) buku yang diyakini oleh orang-orang sebagai kumpulan pemberitahuan dari Dia (langsung maupun tidak), yaitu:
1. Talmut (kitab suci orang Yahudi)
2. Injil (ktiab suci orang Kristen/Nasrani)
3. Al Qur’an (kitab suci orang Islam)
4. Tripitaka (kitab suci orang Hindu)
5. Weda kitab suci orang Budha)
6. Susi (kitab suci orang Kong Hu cu).

Yang mana yang merupakan kumpulan pemberitahuan dari Dia?
Liat aja karakter dari buku-buku itu. Yang mencerminkan karakter Dia, ya itu yang dari Dia.
Yang gak mencerminkan karakter Dia (tapi bahkan mencerminkan karakter manusia yang relatif, berubah dengan berjalannya waktu dan berpindahnya tempat), ya bukan dari Dia.

Dari ke enam buku itu, mana yang:
1. Bahasa dan redaksinya sama di seluruh dunia?
2. Bahasa dan redaksinya gak berubah dari mulai diturunkan (namanya wahyu kan diturunkan ya?) sampe sekarang?

Kok dua itu yang ditanya? Hanya soal ruang dan waktu?
Lha iya lah. Yang namanya mutlak kan gak terbatas pada ruang dan waktu. Kalo manusia sih (dan hasil pemikirannya) yang terbatas ruang dan waktu.
Kok yang diomongin hanya BAHASA DAN REDAKSI?
Karena Yang Mutlak pasti menyampaikan dengan bahasa dan redaksi yang gak terbatas oleh ruang dan waktu. Manusia gak bakal sanggup kayak gitu.

Singkat kata, yang bahasa dan redaksinya sama di seluruh dunia, dan gak berubah dari mulai diturunkan, ya AL QUR’AN.

Ada lagi dua ciri al Qur’an yang menunjukkan bahwa Al Qur’an lah yang merupakan kumpulan wahyu dari Subjek yang Mutlak itu. Kita lanjutin nanti di jilid ke empat.

Wassalamu’alaikum.

BENAR, MUTLAK, dan BISA DIPERCAYA, jilid 2 (cerita lama)

Assalaamu’alaikum.

Setelah sepekan meluncurkan jilid 1, tiba saatnya meluncurkan jilid 2.

Di jilid 1 didapat kesimpulan bahwa:

1. TIDAK ADA YANG BENAR.
2. SEMUA RELATIF.
3. TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA.

Semua kesimpulan tersebut sekarang yang kita bahas, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seputar kesimpulan-kesimpulan tersebut.

1. Benarkah bahwa TIDAK ADA YANG BENAR?
a. Bila salah, maka kesimpulan tersebut tidak dapat dipakai. Tapi contoh-contoh yang diberikan di jilid pertama kan mendukung kebenaran pernyataan ini?
b. Bila benar, maka kesimpulan bahwa tidak ada yang benar adalah SALAH.
Kenapa? Karena:
Bila kesimpulan ini benar, maka ada yang benar. Kalau ADA YANG BENAR (yaitu kesimpulan tersebut) maka TIDAK BENAR bahwa ‘tidak ada yang benar’.

2. Benarkah bahwa SEMUA RELATIF?
c. Bila salah, maka kesimpulan tersebut tidak dapat dipakai. Tapi contoh-contoh yang diberikan di jilid pertama kan mendukung kebenaran pernyataan ini?
d. Bila benar, maka kesimpulan bahwa semua relatif juga RELATIF.
Kenapa? Karena:
Bila kesimpulan ini benar, maka ada yang MUTLAK. Kalau ADA YANG MUTLAK (yaitu kesimpulan tersebut) maka TIDAK BENAR bahwa ‘semua relatif’.

3. Benarkah bahwa TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA?
e. Bila salah, maka kesimpulan tersebut tidak dapat dipakai. Tapi contoh-contoh yang diberikan di jilid pertama kan mendukung kebenaran pernyataan ini?
f. Bila benar, maka kesimpulan bahwa tidak ada yang bisa dipercaya juga TIDAK BISA DIPERCAYA.
Kenapa? Karena:
Bila kesimpulan ini benar, maka ada yang bisa dipercaya. Kalau ADA YANG BISA DIPERCAYA (yaitu kesimpulan tersebut) maka TIDAK BENAR bahwa ‘tidak ada yang bisa dipercaya’.

Dari ketiga uraian di atas kita lihat bahwa masing-masing kesimpulan tersebut BUNUH DIRI.
Fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan YANG BENAR, YANG MUTLAK, dan YANG BISA DIPERCAYA adalah suatu fakta yang TAK TERBANTAH. Bantahan-bantahan terhadap keberadaannya akan bunuh diri. Dalam ilmu logika ini dinamakan NEGASI DER NEGASI (pembantahan terhadap bantahan).

Jadi gimana nih? Kalo pernyataan-pernyataan itu benar, semuanya jadi bunuh diri. Gak bisa dipake. Kalo dibilang salah, fakta-fakta yang diajukan di jilid 1 menunjukkan bahwa ketiga pernyataan tersebut benar.

Gini solusinya.
Karena keberadaan yang benar, yang mutlak, dan yang bisa dipercaya gak mungkin dibantah, berarti fakta-fakta yang diajukan di jilid pertama tidak mengungkap semua fakta. Jadi, meskipun, berdasarkan fakta-fakta yang kita temui, otak kita gak bisa nerima adanya yang mutlak benar dan mutlak bisa dipercaya, tapi otak kita juga gak bisa bantah keberadaannya. Karena gak bisa bantah, maka MAU GAK MAU otak yang nerima keberadaannya. Nerima bukan karena ngebuktiin ADA, tapi karena gak bisa bantah keberadaannya.

Trus gimana dong kesimpulan yang benar?

Kesimpulannya yang dikoreksi, menjadi:
1. TIDAK ADA YANG BENAR, KECUALI….
2. SEMUA RELATIF, KECUALI…..
3. TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA, KECUALI…..

Misalkan yang benar hanya A, yang mutlak hanya B, dan yang bisa dipercaya hanya C.
Kok masing-masing satu?
Kalo yang benar ada dua, maka benarnya jadi tergantung kesepakatan berdua.
Kalo yang mutlak ada dua, jadi gak mutlak, karena saling tergantung.
Kalo yang bisa dipercaya ada dua, maka harus selalu bersepakat membuat pernyataan-pernyataan, supaya gak pernah beda. Kalo terjadi perbedaan pendapat, lalu siapa yang jadi acuan? Maka pasti satu lah.

Pertanyaan berikutnya:
1. Bukankah yang benar pasti mutlak dan yang mutlak pasti benar? Kalo gak gitu benarnya gak mutlak dong, dan mutlaknya gak benar dong?
2. Bukankah yang bisa dipercaya HANYA yang benar?

Jawabannya:
1. Ya. Yang benar pasti mutlak dan yang mutlak pasti benar. Jadi A adalah B (bukan A = B) dan B adalah A. Oleh karena itu kita pake salah satu aja. Kita misalkan A aja ya?
2. Ya. Yang bisa dipercaya hanyalah yang benar. Karena yang benar dan yang mutlak adalah A, maka permisalan kita menjadi ‘yang bisa dipercaya adalah A’.

Pertanyaan lagi:
Siapakah A itu? Siapakah Yang Benar, Yang Mutlak, dan Yang Bisa Dipercaya itu?

Allah, Tuhan, God, Rabb, Thian, Sang Hyang Widhi, Tuhan Bapa, Jahwe, Jehovah, atau yang lain-lainnya?

Jawabannya nanti di jilid ke tiga.

Wassalaamu’alaikum.

BENAR, MUTLAK, DAN BISA DIPERCAYA, jilid 1 (Cerita Lama)

Assalamu’alaikum.

Saya bilang cerita lama karena isi topik ini udah pernah saya ceramahin berkali-kali di training Tingkat Dasar HMI tahun 1980-1983. Juga di acara-acara Studi Islam di SMA-SMA di Jakarta pada tahun yang sama.

Ceritanya begini:
1. Kalo saya pegang pulpen, dan saya tanya anda apakah pulpen ini panjang atau pendek, maka anda gak bisa jawab. Kenapa? Karena gak ada pembanding.
2. Kalo saya pegang baju berwarna putih lalu saya tanya apakah betul baju ini berwarna putih, mungkin anda bilang “ya”. Tapi kalo saya tanya masihkah baju ini terlihat berwana putih bila kena cahaya ultra violet? Anda akan jawab: “Yang enggak lagi”. Jadi warna baju itu putih atau tidak, tergantung pada warna cahaya yang mengenainya.
3. Lebih dalem dikit. Warna yang kita lihat sebenarnya adalah gelombang-gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang yang berbeda (satuannya angstrom, simbolnya 0A). Jadi yang kita lihat putih itu benarkah warna putih, atau gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang tertentu? Hanya karena keterbatasan mata kita makanya gak bisa lihat gelombang elektromagnetik, tapi hanya lihat warna. Kira-kira sama seperti kita lihat langit atau air laut berwarna biru. Benarkah berwarna biru, atau karena keterbatasan pandangan kita sehingga terlihat biru, padahal kenyataannya tidak begitu?
4. Apakah 1 + 1 = 2? Tergantung kita mau pake basis berapa. Kalo pake basis 1 (bilangan biner), maka 1 + 1 = 1.

KENYATAAN. Ini kata kuncinya. Kita gak pernah bertemu dengan kenyataan. Kita selalu bertemu dengan sesuatu sebatas kemampuan kita (melihat, mendengar, meraba, mengerti, memahami, dan lain-lain).

Jadi:
1. Kita tidak pernah bertemu dengan yang BENAR. Selalu bertemu dengan yang KITA ANGGAP BENAR (sekali lagi, karena keterbatasan kemampuan kita).
2. Semua RELATIF, tergantung pembanding. Gak ada yang tua, muda, cantik, jelek, kurus, gemuk, benar, salah, sopan, gak sopan, pinter, bego.
3. Masing-masing kita berpegang teguh pada apa yang kita yakini benar. Yang bertentang dengan kita maka MENURUT KITA dia salah. Kita juga salah, menurut yang bertentang dengan kita.
Jadi gak ada yang bisa dipecaya.
Lho, kok tau-tau kesimpulannya gak ada yang bisa dipercaya?
Ceritanya gini:
Saya percaya 100% apa yang saya yakini saat ini adalah benar. Andapun demikian kan? Pernah kita ngalamin bahwa apa yang tadinya kita yakini sebagai sesuatu yang benar, akhirnya kita tolak karena bertambahnya pengalaman, dan tentu juga pengetahuan, kita? Sering kan?
Jadi sangat mungkin apa yang sekarang kita yakini suatu saat akan kita bantah sendiri.
Mungkin ada yang bilang begini: “Kalo untuk urusan keyakinan agama, Islam udah pasti bener”
Saya nanya: “Udah pernah gak belajar agama lain dari orang yang ahli dalam agama lain itu dan dia juga beragama itu?”. Kalo belum, gimana kita bisa tau agama dia salah, dan agama kita bener? Akhirnya kita hanya berpegang pada keyakinan kita aja kan? Bahkan kita gak berani mengoreksi sejauh mana kebenaran agama Islam.
Kalo saya tanya, kenapa dalam Al-Qur’an kadang Allah pake kata “Dia” (padahal yang ngomong Allah. Berarti yang dimaksud bukan Allah dong.), kadang-kadang pake kata “Kami” (padahal katanya Allah menciptakan langit dan bumi, memerintah malaikat, dan lain-lain sendiri).
Kenapa Allah minta (liat surat Al Fatihaah. Minta petunjuk kan). Ada yang bilang, itu bukan Allah yang ngomong. Itu perintah Allah untuk kita ngomong.Saya tanya kalo gitu: “Kenapa gak ada kata perintah untuk “mengucapkan”, seperti dalam surat Al Ikhlash, Al Falaq, dan An Naas? Di awal ketiga surat itu ada kata perintah “katakanlah”.
Masih banyak lagi kebingungan yang kita temui, kalo mau liat isi Al Qur’an.
Tambah satu lagi deh.
Liat surat 4 (An Nisaa’) ayat 78 dan 79.
Di ayat 78 Allah bilang: “Kebaikan dan bencana, semua datangnya dari Allah”.
Di ayat 79 Allah bilang: “Apa saja ni’mat yang kamu peroleh, datangnya dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri”.
Mana yang bener?
Tuh, kalo kita mau koreksi. Banyak kan. Makanya saya bilang, kita percaya, tapi gak koreksi. Orang di luar Islam gak percaya akan kebenaran ajaran Islam.

Kesimpulannya:
1. TIDAK ADA YANG BENAR
2. SEMUA RELATIF
3. TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA.

Sampe di sini ada pertanyaan?

(dilanjutkan kapan-kapan)

Wassalamu alaikum.

GARA-GARA GMT

Assalaamu ‘alaikum

Gara-gara GMT kita jadi shalat Jum’atnya hari Kamis. Gara-gara GMT kita shaum Senin-Kamis nya jadi hari Ahad dan Rabu. Emang brengsek itu GMT.
Maksudnya apa nih? Sensasi aja, atau lagi ngigo, atau gak ada omongan, jadi ngoceh kayak gini?

Gak.... Ini beneran. Gini ceritanya.

GMT ini mulai diberlakukan tahun 1884 (liat di Wikipedia tentang GMT). Sejak diberlakukannya GMT maka hari dimulai dari Kepulauan Fiji. Letaknya persis 1800 setelah Greenwich (Kalau kita liat di bola dunia atau globe, persis di belakang Greenwich). Konon kabarnya Inggris menetapkan hari mulai dari situ agar tidak pernah ada gelap di Inggris (The Sun Never Set on The British Empire).
Akibat dimulainya hari di situ maka kita lebih dahulu 4 (empat) jam memasuki hari daripada Mekkah. Jadi kalau kita masuk hari Senin (jam 00.00), maka Mekkah 4 jam kemudian baru masuk hari Senin. Ketika kita sudah masuk hari Senin, di Mekkah masih hari Minggu pukul 20.00.

Pertanyaannya adalah:
1. Apa dasarnya (baik ilmiah maupun dalil) bahwa hari mulai dari kepulauan Fiji?
2. Apa dasarnya pergantian hari pada pukul 00.00?
3. Dimana hari dimulai sebelum diberlakukan GMT?
4. Dimana hari dimulai ketika khilafah Islamiyah menguasai dua per tiga dunia selama 7 (tujuh) abad?
5. Dimana hari dimulai ketika Rasulullah masih hidup?
6. Dimana hari dimulai ketika Nabi Adam diturunkan Allah ke bumi, dan memulai kehidupan di bumi?

Pertanyaan 1, jawabannya adalah TIDAK ADA. Bahkan kalau berdasarkan dalil Al Qur’an, rumah yang pertama dibangun untuk manusia adalah di Mekkah (liat surat Ali Imran, surat ke 3, ayat 96). Rumah adalah tempat. Dimana ada tempat, di situ ada waktu. Jadi kalau rumah pertama ada di Mekkah, maka waktu (atau perhitungan waktu) dimulai dari Mekkah. Jadi seharusnya hari dimulai dari Mekkah.
Pertanyaan2, jawabannya juga TIDAK ADA. Bahkan kalau berdasar Allah dan Rasulnya, pergantian hari itu Magrib. Kalau kita pakai istilah yang mengacu pada GMT, jam 03.00 sudah dinamakan pagi. Padahal itu masih waktu shalat MALAM. Jadi jelas pergantian hari versi GMT, dan segala istilah tentang waktu yang dikaitkan dengannya, tidak ada dasar ilmiah dan dalil yang mendukungnya. Dengan kata lain, penetapan ini hanya SUKA-SUKA (sak karep, kata orang jawa).
Untuk jawaban dari pertanyaan nomor 3 sampai dengan nomor 6, saya gak tau. Silahkan pelajari sejarah. Yang jelas tidak mungkin di kepulaun Fiji, sebagaimana yang berlangsung sekarang.

Ketika saya kemukakan kenyataan ini kepada beberapa orang, ada yang menanggapi begini:
“Jangan mengada-ada Sin. Udah bener kayak gini sekarang. Jangan bikin-bikin hal baru lah.”
Yang ngomong gini menurut saya gak mikir dulu. “Umur” GMT belum sampai dua abad. Belum nyampe dua ratus tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Rasulullah sampai sekarang sudah seribu tahun lebih. Lagian GMT gak ada dasar ilmiahnya. Jadi yang mengada-ada itu saya atau yang bikin GMT? Yang bikin hal baru itu saya atau yang bikin GMT?

Ada lagi yang bilang bahwa kita harus ngikut orang banyak. Kan para ulama sepakat bahwa hari dimulai dari kepulauan Fiji. Yang ngomong gini apa gak pernah baca firman Allah dalam surat Al An’am (surat 6) ayat 116, bahwa kalau ikut orang banyak malah sesat dari jalan Allah. Trus kalau dia bilang ulama udah sepakat, saya malah nanya: “Siapa yang berhak menyandang gelar ulama?” Liat di Al Qur’an surat Faathir (surat ke 35) ayat 28. Yang berhak menyandang gelar ulama hanyalah yang takutnya hanya kepada Allah. Jadi yang takut ditinggal jamaah, yang takut disingkirkan masyarakat, yang takut diciduk aparat, yang takut berseberangan dengan orang banyak dan/atau pemerintah, maka bukan ulama menurut Allah. Kalau menurut orang banyak dia itu ulama, pertanyaan saya, sejak kapan orang banyak memiliki wewenang untuk memberi gelar ‘ulama’ pada seseorang?

Jadi kesimpulannya, seharusnya kita masuk hari 20 (DUA PULUH) JAM SETELAH MEKKAH. Jadi kita shalat Jum’at seharusnya 20 jam setelah shalat Jum’at dilaksanakan di Mekkah, bukan seperti sekarang, 4 jam SEBELUM pelaksanaan shalat Jum’at di Mekkah. Kalau kita melaksanakan shalat Jum’at 4 jam sebelum pelaksanaan shalat Jum’at di Mekkah, berarti kita shalat Kamis, bukan shalat Jum’at.
Demikian juga dengan shaum Senin dan Kamis. Seharusnya kita mulai shaum 20 jam setelah orang-orang di Mekkah shaum, bukan empat jam sebelumnya.

Ada kejadian aneh ketika shalat Idul Adha tahun lalu. Mereka yang melaksanakan shalat hari Selasa (versi GMT) mengatakan bahwa mereka mengikuti Mekkah, karena Mekkah juga hari Selasa. Ketika saya tanya: “Apakah saat ini (jam 09.00 WIB) di Mekkah udah shalat Id?” Dia jawab belum. “Lho katanya ngikut Mekkah, kok duluan, bukan belakangan?”. Gak bisa jawab tuh orang. Tapi ya gak mikir, bahwa kalau ngikut ya belakangan, bukan duluan.

Segini aja dulu ya?

Oya, sekedar pemberitahuan, bahwa saya udah sejak April 2007 melaksanakan shalat Jum’at di hari Jum’at yang bener (istilah yang saya pake adalah VERSI MMT/Mekkah Meridian Time). Bukan shalat Ju’at versi GMT. Karena menurut orang banyak hari itu adalah hari Sabtu, maka saya dan kawan-kawan melaksanakannya di rumah saya di Depok.
Jadi bagi yang masih mau ngikut orang banyak, saya ucapkan SELAMAT SHALAT KAMIS, dan SELAMAT SHAUM AHAD DAN RABU.

Wassalaamu ‘alaikum