Jumat, 22 Juli 2011

MASALAH KEIMANAN UMAT

A. LATAR BELAKANG KAJIAN.
Di berbagai tempat di dunia ini komunitas muslim menjadi bulan-bulanan orang-orang yang memusuhi Islam dan umatnya.
Komentar yang sering terdengar adalah perilaku dan kekejaman musuh-musuh kaum muslimin terhadap kaum muslimin. Nyaris tidak pernah terdengar adanya komentar atau pertanyaan yang berkaiatan dengan kualitas umat Islam sehingga musuh-musuh Islam dapat dengan semena-mena memperlakukan dan menyiksa umat Islam.
Padahal Allah sudah memberitahukan dalam surat Ali Imran (3) ayat 139 bahwa orang yang beriman adalah orang yang paling tinggi derajatnya.
Padahal juga fakta sejarah menunjukkan bahwa dengan modal Iman yang benar (mu’minun al-haq/surat 8 ayat 2), umat Islam yang bersatu dalam satu kekhalifahan telah mampu menguasai dua per tiga dunia dalam waktu tujuh abad. Tak ada imperium sebelum dan sesudah kekhalifahan yang menguasai wilayah sedemikian luas dengan waktu yang begitu lama.
Kenyataan akan kelemahan kaum muslimin hari ini, sehingga menjadi bulan-bulanan musuhnya, menuntut kita untuk mencari sebab di dalam diri kaum muslimin, dan bukan sebab di luar diri kita, karena Allah sudah menegaskan dalam surat 53 ayat 39, bahwa seseorang tidak memperoleh melainkan hasil dari usaha dia. Dan juga Allah sudah sejak lama memberitahukan dalam surat 13 ayat 11 bahwa Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga kaum itu mengadakan perubahan terhadap apa yang ada dalam dirinya.
Cerita yang disampaikan Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 14 patut menjadi renungan kita. Jangan-jangan kita memang belum berhak mengaku diri beriman. Kalau memang demikian adanya, maka bukan kenyataan yang mengherankan bila kita menjadi bulan-bulanan dan barang mainan musuh-musuh Allah dan RasulNya.

B. CIRI-CIRI MU’MIN MENURUT ALLAH
a. Amat sangat mencintai Allah (2:165)
b. Dengar dan taat terhadap setiap Firman Allah dan Sabda Rasul (2:285)
c. Tergetar qalbu bila disebut Allah (8:2)
d. Bertambah iman bila dibacakan ayt-ayat Allah (8:2)
e. Tawakkal hanya pada Allah (8:2)
f. Mendirikan shalat (8:3)
g. Khusyu’ dalam shalat (23:2)
h. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berguna (23:3)
i. Menunaikan zakat (23:4)
j. Memelihara kemaluan (23:5, 6, 7)
k. Memelihara amanat dan janji (23:8)
l. Memelihara shalat (6:92; 23:9)
m. Tidak ragu, jihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah (49:15)
n. Tenteram qalbu (tidak lagi gelisah) bila zikrullah (13:28)

Pada kesempatan ini hanya akan dibahas emat ciri saja, yaitu a, f, g, dan l.

a. Amat sangat mencintai Allah (surat Al Baqarah ayat 165):

وَ مِنَ آلنّا سِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ آللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ آللهِصلى
وَآلَّذِيْنَ أَمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا لِلهِ قلت
Dan di antara manusia ada yang mengambil/menjadikan selain Allah tandingan-tandingan, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.
Dan orang-orang beriman itu amat sangat mencintai Allah

Ciri Cinta:
- Rindu/selalu ingin bertemu.
- Rela berkorban.
- Selalu berusaha menyenangkan/membahagiakan hatinya.


f. Mendirikan Shalat (surat Al Anfaal ayat 3):

إِنَّمَا آلْمُؤْمِنُوْنَ آلَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ أللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إُيْمَانًا وَ عَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَلُوْنَ (2)
آلَّذِيْنَ يُقِيْنُوْنَ آلصَّلَوةَ وَ مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3)
(2) Bahwasanya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang jka diingatkan/disebut Allah tergetar qalbu mereka, dan jika dibacakan ayat-ayat Allah bertambah iman mereka, dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.
(3) Orang-orang yang mendirikan shalat dan terhadap rizki yang kami telah berikan, mereka menginfakkannya

Beda antara mengerjakan shalat dan mendirikan shalat:
- Mengerjakan shalat: yang penting selesai, lalu mengharap upah (pahala). Seperti tukang yang mengerjakan rumah yang sedang dibangun. Tidak peduli tentang mutu. Yang penting selesai, lalu minta upah.
- Mendirikan/menegakkan shalat: Yang penting sempurna. Selalu merasa dan meyakini shalatnya masih belum benar. Seperti pemilik rumah yang sedang dibangun. Senantiasa jeli melihat yang kurang. Tak pernah meras puas dengan hasil yang sudah dicapai.

g. Khusyu dalam shalat suart Al Mu’minun ayat 2):

قَدْ أَفْلَحَ آلْمُؤْمِنُوْنَ (1) آلَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ (2)

1. Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman.
2. Orang-orang yang dalam shalat mereka khusyu’ (tunduk)


Tingkatan pelaksana shalat:
- دَاءِمٌ (Pembiasa)
- حَافِظٌ (pemelihara)
- خَاشِعٌ (khusyu’)


l. Memelihara Shlat (surat Al An’am ayat 92):
وَآلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِآلأَخِرَةِ يُؤْمِنُوْنَ بِهِ صلى وَهُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ
Dan orang-orang yang beriman terhadap akhirat beriman kepadanya (Al Qur’an), dan mereka terhadap shalatnya memelihara
Yang dipelihara dalam mendirikan shalat:
- Waktu. Di awal waktu, bukan pada waktunya.
- Kebersihan pakaian dan tempat.
- Kebenaran ucapan dan gerakan.
- Kesopanan.
- Niyat.

Tambahan:
1. Tingkatan dari Keinginan yang melintas sampai dengan Niyat:
- هَجْسٌ (keinginan yang melintas di hati).
- هِمًّةٌ (keinginan yang menetap di hati).
- إِرَدَةٌ (rencana)
- عَزْمٌ (tekad)
- قَصْدٌ (maksud, sudah bersiap-siap)
- نِيَّةٌ (kesengajaan).

2. Shalat untuk Siapa dan untuk apa?
Shalat untuk Siapa? Untuk Rabbmu (surat 103 ayat 2).
فَصَلِ لٍرَبِكَ وَآنْحَرْ
Shlat untuk apa? Untuk Dzikrullah (surat 20 ayat 14).
إِنَنِيْ أَنَا آلله لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا فَآعْبُدْ نِيْ وَأَقِمِ آلصَّلَوةَ لِذِكْرِيْ
3. Bagaimana dzikrullah itu?
- Tidak mungkin pakai otak, karena sesuatu yang dapat diingat dengan otak adalah yang mungkin (possible) untuk dibayangkan.
- Bila dikatakan mengingat “Kebesaran” Allah, ketika shalat kita tidak mungkin dalam keadaan sedang mengingat kebesaran Allah.
- Orang yang khusyu’ adalah orang yang (surat 2:46)
أَنَّهُمْ (merasakan) يَظُنُّوْنَ
رَبِّهِمْ (dipertemukan) مُلاَقُوْآ
(orang yang kembali/subjek) وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
- Jadi ذِكْرُآللهadalah berbicara dengan Allah.
- Wirid ≠ ذِكْرُآلله

C. KONDISI NYATA KEIMANAN UMAT ISLAM.
Mari kita bahas bersama. Terutama mari kita lihat ke dalam diri kita masing-masing. Itulah kondisi nyata yang kita alami sekarang.

Tidak ada komentar: