Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Banyak diantara orang yang bergama Islam ketika melaksanakan perintah Allah mengharap pahala yang telah dijanjikan Allah bagi para pelaksana perintah Allah. Kata dalam bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai “pahala” adalah AJRUN. Arti yang tepat adalah IMBALAN. Sedangkan kata JAZAA’ lebih tepat bila diterjemahkan dengan BALASAN, karena jazaa’ bisa karena taat kepada Allah maupun karena tidak taat kepada Allah (lhat misalnya dalam surat 23/ Al-Mu’minun ayat 111 untuk balasan ketaatan dan surat 34/Sabaa’ ayat 17 untuk balasan ketidaktaatan).
Dalam hadis-hadis yang membicarakan tentang ajrun, tidak disebutkan bentuk ajrun itu bagaimana. Yang disebutkan hanya jumlahnya, atau kuantitasnya. Misalnya shalat berjamaah lebih baik 27 kali daripada shalat sendiri. Misalnya lagi membaca Al Qur’an dalam keadaan tidak berwudhu imbalannya 10 kebaikan tiap hurufnya, membaca Al Qur’an dalam keadaan berwudhu imbalannya 25 kebaikan setiap hurufnya, dan membaca Al Qur’an di dalam shalat imbalannya 50 kebaikan setiap hurufnya. Banyak contoh-contoh lainnya yang tidak saya sebutkan di sini.
Berdasarkan hadis-hadis tentang ajrun itu maka sebagian orang Islam menjalankan perintah Allah dengan motivasi mendapatkan ajrun.
Pertanyaannya adalah: “Apakah ajrun itu tujuan berbuat, atau hanya hasil/konsekuensi dari berbuat?”
Timbulnya pertanyaan ini karena ikrar para pelaksana shalat ketika mengucapkan Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin adalah hanya kepada Allah dia mengabdi. Jadi bukan kepada kepentingan dirinya. Mengabdi bukanlah menjadi buruh, yang setelah bekerja menerima upah. Mengabdi adalah menjadi abdi. Seorang abdi berbuat untuk menyenangkan hati sang tuan (rabb), karena seluruh keperluan hidupnya sudah ditanggung dan diurus oleh tuannya. Jadi tujuan pengabdi dalam berbuat adalah agar sang tuan SENANG atau dalam bahasa Arabnya RIDHA.
Sayangnya terjemahan dari na’budu yang ditulis di dalam kebanyakan terjemahan Al-Qur’an adalah menyembah. Padahal aksi menyembah terlalu sempit dibanding dengan mengabdi, dan bahasa Arabnya jelas-jelas menggunakan kata “ABADA, yang artinya mengabdi.
Jadi kalau mengabdi kepada Allah, sesuai dengan ikrar yang diucapkan di tiap rakaat shalat, maka tujuan menaati Alah bukan untuk mendapat imbalan-imbalan, tetapi agar Allah senang (ridha).
Apalagi kalau kita mengacu pada surat al Baqarah (surat 2) ayat 165, bahwa ciri orang yang beriman itu adalah AMAT SANGAT CINTA KEPADA ALLAH (ASYADDU HUBBALILLAAH). Karena amat sangat cinta kepada Allah maka orang beriman itu dalam menaati Allah sama sekali tidak berfikir tentang pahala (ajrun). Tujuannya berbuat semata-mata Allah senang (ridha), karena bila sudah mencintai, maka berusaha membahagiakan. Asalkan Allah sudah senang (ridha) dengan apa yang dia lakukan, maka baginya sudah cukup. Hatinya senantiasa merindukan Allah, dan senantiasa berharap Allah memandangnya dengan penuh senyum, kasih sayang, dan cinta. (Lihat juga surat 2 ayat 207).
Dari uraian tentang ikrar dan ciri mu’min yang sangat cinta kepada Allah, maka tahulah kita bahwa seharusnya ajrun (pahala) bukanlah tujuan taat, bukan sesuatu yang dicari, bukanlah sesuatu yang diharap. Pahala atau ajrun adalah dampak positif (hasil/konsekuensi) dari berbuat. Dijadikan atau tidak dijadikan tujuan, pasti akan didapat, asalkan proses yang dilalui sudah memenuhi syarat. Permisalannya kira-kira seperti kita makan ketika sedang lapar. Kenyang adalah dampak positif atau konsekuensi logis dari makan, bila proses yang dilalui memenuhi syarat. Dijadikan atau tidak dijadikan tujuan, kenyang akan dialami oleh orang-orang yang makan. Tapi ridha Allah tidak akan didapat dari aktivitas makan, bila ridha Allah tidak dijadikan tujuan.
Oleh karena itu saya berani mengatakan bahwa sangat rugilah orang yang mengejar pahala, karena ikrar dia kepada Alah dia langgar. Mungkinkah dia mendapatkan ajrun dari Allah bila ikrarnya kepada Allah saja sudah dilanggar? Dan juga saya berani mengatakan bahwa amat bodohlah orang yang menjadikan “mendapat pahala” sebagai tujuan menaati Allah, karena dijadikan atau tidak dijadikan tujuan, ajrun itu tetap didapat bila proses yang dilalu sudah memenuhi syarat. Yang perlu kita ketahui adalah proses yang benar dalam menaati Allah, agar ridha Allah dan ajrun didapat.
Lalu apa hubungannya uraian ini dengan judulnya di atas?
Hubungannya begini:
Jauhi diri dari motivasi mencari pahala (ajrun) ketika menataati Allah, karena pahala pasti dapat kalau apa yang kita lakukan sudah sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah.
Pelajari apa dan bagaimana kehendaki Allah terhadap para pelaku “taat” kepada Allah (saya tidak menggunakan hamba Allah, karena kita belum tentu hamba Allah. Ada ciri-ciri khusus hamba Allah. Lihat sura Al Furqan/25 ayat 63 sampai dengan 74).
Carilah senang (ridha)nya Allah. Berusahalah agar Allah senang ketika dan karena kita melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita untuk melaksanakannya, atau meninggalkan perbuatan yang disuruhNya kita untuk meninggalkannya.
Kalau ketiga hal di atas kita lakukan dengan benar maka “pahala” pasti dapat tanpa harus kita jadikan tujuan, dan tanpa harus kita cari.
Jadilah pengabdi, jangan jadi kuli.
Sekian uraian ringkas saya.
Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar