Jumat, 22 Juli 2011

BENAR, MUTLAK, dan BISA DIPERCAYA, jilid 3 (cerita lama)

Assalamu’alaikum.

Terlambat untuk posting jilid ke tiga nih. Lagi gak ada semangat untuk nulis.

Jilid ke dua ditutup dengan pertanyaan:
Siapakah A itu? Siapakah Yang Benar, Yang Mutlak, dan Yang Bisa Dipercaya itu?
Allah, Tuhan, God, Rabb, Thian, Sang Hyang Widhi, Tuhan Bapa, Jahwe, Jehovah, atau yang lain-lainnya?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita cari tau dulu tentang ciri atau karakter A yang lagi kita omongin ini.

Ciri-cirinya adalah:
1. Mutlak (Absolute)
2. Tidak ada yang menyamai (Distinct)
3. Maha Esa (Unique).

Kenapa tidak ada yang menyamai?
Karena hanya satu yang bersifat mutlak itu. Ini udah dibahas di jilid ke dua.

Saya gunakan istilah Maha Esa, karena yang dimaksud adalah SATU-SATUNYA dan tidak terdiri dari unsur-unsur (elemen-elemen). Saya gak tau istilah lain yang tepat dalam bahasa Indonseia untuk menyatakan keberadaan yang demikian.

Adakah Subjek yang berciri demikian?
Udah dibahas juga di jilid ke dua bahwa keberadaannya tidak bisa dibantah.

Kalo ada:
Darimana Dia?
Dimana Dia?
Mau kemana Dia?

Semua pertanyaan itu hanya berlaku bagi yang tidak mutlak, kalau yang dimaksud adalah tempat dalam bentuk fisik (ruang), dan perjalanan dalam wawasan waktu yang kita kenal (perhitungan berdasarkan perputaran bumi mengelilingi sumbunya).
Jadi bagi Subjek yang bersifat Mutlak tidak berlaku pertanyaan darimana, dimana, mau kemana.
Hanya ada satu kata untuk menyatakan keberadaan Dia, yaitu ADA.
Dia ADA sebelum kata ‘ada’ itu ada, dan dia tetap ADA walaupun kata ‘ada’ itu sudah tidak ada.

Lalu siapa Dia yang Mutlak, Tidak ada yang menyamai, dan Maha Esa itu?
Berbagai sebutan dipakai orang untuk memanggil Dia:
Tuhan, God, Thian, Rabb, Tuhan Bapa, Sang Hyang Widhi, Jahwe, Jehovah, Allah.
(ini yang saya tau).
Yang mana yang bener? Semua? Gak mungkin, karena sifat-sifat detail dari masing-masingnya gak sama. Pasti yang bener hanya satu. Cara taunya gimana?

Selama kita menggunakan fikiran kita untuk mencari tau siapa Dia, gak bakal dapat jawaban yang benar dan bisa dipercaya. Kenapa? Karena hasil pemikiran kita, hasil perenungan kita, semua relatif. Sangat berpeluang untuk mengalami perubahan. Lha perenungan yang kapan yang benar? Kita udah mati aja, ada koreksinya dari orang lain.

Trus gimana caranya supaya kita dapat jawaban yang benar tentang:
- Siapa Dia?
- Bagaiamana keberadaanNya?
- Bagaiamana sifat dan kehendakNya?
- Bagaimana cara berhubungan dengan Dia?

Gak ada lain caranya selain: DIA YANG NGASI TAU..
Pemberitahuan dari Dia kita kenal dengan istilah WAHYU.
Setahu saya ada 6 (enam) buku yang diyakini oleh orang-orang sebagai kumpulan pemberitahuan dari Dia (langsung maupun tidak), yaitu:
1. Talmut (kitab suci orang Yahudi)
2. Injil (ktiab suci orang Kristen/Nasrani)
3. Al Qur’an (kitab suci orang Islam)
4. Tripitaka (kitab suci orang Hindu)
5. Weda kitab suci orang Budha)
6. Susi (kitab suci orang Kong Hu cu).

Yang mana yang merupakan kumpulan pemberitahuan dari Dia?
Liat aja karakter dari buku-buku itu. Yang mencerminkan karakter Dia, ya itu yang dari Dia.
Yang gak mencerminkan karakter Dia (tapi bahkan mencerminkan karakter manusia yang relatif, berubah dengan berjalannya waktu dan berpindahnya tempat), ya bukan dari Dia.

Dari ke enam buku itu, mana yang:
1. Bahasa dan redaksinya sama di seluruh dunia?
2. Bahasa dan redaksinya gak berubah dari mulai diturunkan (namanya wahyu kan diturunkan ya?) sampe sekarang?

Kok dua itu yang ditanya? Hanya soal ruang dan waktu?
Lha iya lah. Yang namanya mutlak kan gak terbatas pada ruang dan waktu. Kalo manusia sih (dan hasil pemikirannya) yang terbatas ruang dan waktu.
Kok yang diomongin hanya BAHASA DAN REDAKSI?
Karena Yang Mutlak pasti menyampaikan dengan bahasa dan redaksi yang gak terbatas oleh ruang dan waktu. Manusia gak bakal sanggup kayak gitu.

Singkat kata, yang bahasa dan redaksinya sama di seluruh dunia, dan gak berubah dari mulai diturunkan, ya AL QUR’AN.

Ada lagi dua ciri al Qur’an yang menunjukkan bahwa Al Qur’an lah yang merupakan kumpulan wahyu dari Subjek yang Mutlak itu. Kita lanjutin nanti di jilid ke empat.

Wassalamu’alaikum.

Tidak ada komentar: