Jumat, 22 Juli 2011

BENAR, MUTLAK, dan BISA DIPERCAYA, jilid 2 (cerita lama)

Assalaamu’alaikum.

Setelah sepekan meluncurkan jilid 1, tiba saatnya meluncurkan jilid 2.

Di jilid 1 didapat kesimpulan bahwa:

1. TIDAK ADA YANG BENAR.
2. SEMUA RELATIF.
3. TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA.

Semua kesimpulan tersebut sekarang yang kita bahas, dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan seputar kesimpulan-kesimpulan tersebut.

1. Benarkah bahwa TIDAK ADA YANG BENAR?
a. Bila salah, maka kesimpulan tersebut tidak dapat dipakai. Tapi contoh-contoh yang diberikan di jilid pertama kan mendukung kebenaran pernyataan ini?
b. Bila benar, maka kesimpulan bahwa tidak ada yang benar adalah SALAH.
Kenapa? Karena:
Bila kesimpulan ini benar, maka ada yang benar. Kalau ADA YANG BENAR (yaitu kesimpulan tersebut) maka TIDAK BENAR bahwa ‘tidak ada yang benar’.

2. Benarkah bahwa SEMUA RELATIF?
c. Bila salah, maka kesimpulan tersebut tidak dapat dipakai. Tapi contoh-contoh yang diberikan di jilid pertama kan mendukung kebenaran pernyataan ini?
d. Bila benar, maka kesimpulan bahwa semua relatif juga RELATIF.
Kenapa? Karena:
Bila kesimpulan ini benar, maka ada yang MUTLAK. Kalau ADA YANG MUTLAK (yaitu kesimpulan tersebut) maka TIDAK BENAR bahwa ‘semua relatif’.

3. Benarkah bahwa TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA?
e. Bila salah, maka kesimpulan tersebut tidak dapat dipakai. Tapi contoh-contoh yang diberikan di jilid pertama kan mendukung kebenaran pernyataan ini?
f. Bila benar, maka kesimpulan bahwa tidak ada yang bisa dipercaya juga TIDAK BISA DIPERCAYA.
Kenapa? Karena:
Bila kesimpulan ini benar, maka ada yang bisa dipercaya. Kalau ADA YANG BISA DIPERCAYA (yaitu kesimpulan tersebut) maka TIDAK BENAR bahwa ‘tidak ada yang bisa dipercaya’.

Dari ketiga uraian di atas kita lihat bahwa masing-masing kesimpulan tersebut BUNUH DIRI.
Fakta ini menunjukkan bahwa keberadaan YANG BENAR, YANG MUTLAK, dan YANG BISA DIPERCAYA adalah suatu fakta yang TAK TERBANTAH. Bantahan-bantahan terhadap keberadaannya akan bunuh diri. Dalam ilmu logika ini dinamakan NEGASI DER NEGASI (pembantahan terhadap bantahan).

Jadi gimana nih? Kalo pernyataan-pernyataan itu benar, semuanya jadi bunuh diri. Gak bisa dipake. Kalo dibilang salah, fakta-fakta yang diajukan di jilid 1 menunjukkan bahwa ketiga pernyataan tersebut benar.

Gini solusinya.
Karena keberadaan yang benar, yang mutlak, dan yang bisa dipercaya gak mungkin dibantah, berarti fakta-fakta yang diajukan di jilid pertama tidak mengungkap semua fakta. Jadi, meskipun, berdasarkan fakta-fakta yang kita temui, otak kita gak bisa nerima adanya yang mutlak benar dan mutlak bisa dipercaya, tapi otak kita juga gak bisa bantah keberadaannya. Karena gak bisa bantah, maka MAU GAK MAU otak yang nerima keberadaannya. Nerima bukan karena ngebuktiin ADA, tapi karena gak bisa bantah keberadaannya.

Trus gimana dong kesimpulan yang benar?

Kesimpulannya yang dikoreksi, menjadi:
1. TIDAK ADA YANG BENAR, KECUALI….
2. SEMUA RELATIF, KECUALI…..
3. TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA, KECUALI…..

Misalkan yang benar hanya A, yang mutlak hanya B, dan yang bisa dipercaya hanya C.
Kok masing-masing satu?
Kalo yang benar ada dua, maka benarnya jadi tergantung kesepakatan berdua.
Kalo yang mutlak ada dua, jadi gak mutlak, karena saling tergantung.
Kalo yang bisa dipercaya ada dua, maka harus selalu bersepakat membuat pernyataan-pernyataan, supaya gak pernah beda. Kalo terjadi perbedaan pendapat, lalu siapa yang jadi acuan? Maka pasti satu lah.

Pertanyaan berikutnya:
1. Bukankah yang benar pasti mutlak dan yang mutlak pasti benar? Kalo gak gitu benarnya gak mutlak dong, dan mutlaknya gak benar dong?
2. Bukankah yang bisa dipercaya HANYA yang benar?

Jawabannya:
1. Ya. Yang benar pasti mutlak dan yang mutlak pasti benar. Jadi A adalah B (bukan A = B) dan B adalah A. Oleh karena itu kita pake salah satu aja. Kita misalkan A aja ya?
2. Ya. Yang bisa dipercaya hanyalah yang benar. Karena yang benar dan yang mutlak adalah A, maka permisalan kita menjadi ‘yang bisa dipercaya adalah A’.

Pertanyaan lagi:
Siapakah A itu? Siapakah Yang Benar, Yang Mutlak, dan Yang Bisa Dipercaya itu?

Allah, Tuhan, God, Rabb, Thian, Sang Hyang Widhi, Tuhan Bapa, Jahwe, Jehovah, atau yang lain-lainnya?

Jawabannya nanti di jilid ke tiga.

Wassalaamu’alaikum.

Tidak ada komentar: