Assalaamu ‘alaikum
Gara-gara GMT kita jadi shalat Jum’atnya hari Kamis. Gara-gara GMT kita shaum Senin-Kamis nya jadi hari Ahad dan Rabu. Emang brengsek itu GMT.
Maksudnya apa nih? Sensasi aja, atau lagi ngigo, atau gak ada omongan, jadi ngoceh kayak gini?
Gak.... Ini beneran. Gini ceritanya.
GMT ini mulai diberlakukan tahun 1884 (liat di Wikipedia tentang GMT). Sejak diberlakukannya GMT maka hari dimulai dari Kepulauan Fiji. Letaknya persis 1800 setelah Greenwich (Kalau kita liat di bola dunia atau globe, persis di belakang Greenwich). Konon kabarnya Inggris menetapkan hari mulai dari situ agar tidak pernah ada gelap di Inggris (The Sun Never Set on The British Empire).
Akibat dimulainya hari di situ maka kita lebih dahulu 4 (empat) jam memasuki hari daripada Mekkah. Jadi kalau kita masuk hari Senin (jam 00.00), maka Mekkah 4 jam kemudian baru masuk hari Senin. Ketika kita sudah masuk hari Senin, di Mekkah masih hari Minggu pukul 20.00.
Pertanyaannya adalah:
1. Apa dasarnya (baik ilmiah maupun dalil) bahwa hari mulai dari kepulauan Fiji?
2. Apa dasarnya pergantian hari pada pukul 00.00?
3. Dimana hari dimulai sebelum diberlakukan GMT?
4. Dimana hari dimulai ketika khilafah Islamiyah menguasai dua per tiga dunia selama 7 (tujuh) abad?
5. Dimana hari dimulai ketika Rasulullah masih hidup?
6. Dimana hari dimulai ketika Nabi Adam diturunkan Allah ke bumi, dan memulai kehidupan di bumi?
Pertanyaan 1, jawabannya adalah TIDAK ADA. Bahkan kalau berdasarkan dalil Al Qur’an, rumah yang pertama dibangun untuk manusia adalah di Mekkah (liat surat Ali Imran, surat ke 3, ayat 96). Rumah adalah tempat. Dimana ada tempat, di situ ada waktu. Jadi kalau rumah pertama ada di Mekkah, maka waktu (atau perhitungan waktu) dimulai dari Mekkah. Jadi seharusnya hari dimulai dari Mekkah.
Pertanyaan2, jawabannya juga TIDAK ADA. Bahkan kalau berdasar Allah dan Rasulnya, pergantian hari itu Magrib. Kalau kita pakai istilah yang mengacu pada GMT, jam 03.00 sudah dinamakan pagi. Padahal itu masih waktu shalat MALAM. Jadi jelas pergantian hari versi GMT, dan segala istilah tentang waktu yang dikaitkan dengannya, tidak ada dasar ilmiah dan dalil yang mendukungnya. Dengan kata lain, penetapan ini hanya SUKA-SUKA (sak karep, kata orang jawa).
Untuk jawaban dari pertanyaan nomor 3 sampai dengan nomor 6, saya gak tau. Silahkan pelajari sejarah. Yang jelas tidak mungkin di kepulaun Fiji, sebagaimana yang berlangsung sekarang.
Ketika saya kemukakan kenyataan ini kepada beberapa orang, ada yang menanggapi begini:
“Jangan mengada-ada Sin. Udah bener kayak gini sekarang. Jangan bikin-bikin hal baru lah.”
Yang ngomong gini menurut saya gak mikir dulu. “Umur” GMT belum sampai dua abad. Belum nyampe dua ratus tahun. Sedangkan jarak waktu dari masa Rasulullah sampai sekarang sudah seribu tahun lebih. Lagian GMT gak ada dasar ilmiahnya. Jadi yang mengada-ada itu saya atau yang bikin GMT? Yang bikin hal baru itu saya atau yang bikin GMT?
Ada lagi yang bilang bahwa kita harus ngikut orang banyak. Kan para ulama sepakat bahwa hari dimulai dari kepulauan Fiji. Yang ngomong gini apa gak pernah baca firman Allah dalam surat Al An’am (surat 6) ayat 116, bahwa kalau ikut orang banyak malah sesat dari jalan Allah. Trus kalau dia bilang ulama udah sepakat, saya malah nanya: “Siapa yang berhak menyandang gelar ulama?” Liat di Al Qur’an surat Faathir (surat ke 35) ayat 28. Yang berhak menyandang gelar ulama hanyalah yang takutnya hanya kepada Allah. Jadi yang takut ditinggal jamaah, yang takut disingkirkan masyarakat, yang takut diciduk aparat, yang takut berseberangan dengan orang banyak dan/atau pemerintah, maka bukan ulama menurut Allah. Kalau menurut orang banyak dia itu ulama, pertanyaan saya, sejak kapan orang banyak memiliki wewenang untuk memberi gelar ‘ulama’ pada seseorang?
Jadi kesimpulannya, seharusnya kita masuk hari 20 (DUA PULUH) JAM SETELAH MEKKAH. Jadi kita shalat Jum’at seharusnya 20 jam setelah shalat Jum’at dilaksanakan di Mekkah, bukan seperti sekarang, 4 jam SEBELUM pelaksanaan shalat Jum’at di Mekkah. Kalau kita melaksanakan shalat Jum’at 4 jam sebelum pelaksanaan shalat Jum’at di Mekkah, berarti kita shalat Kamis, bukan shalat Jum’at.
Demikian juga dengan shaum Senin dan Kamis. Seharusnya kita mulai shaum 20 jam setelah orang-orang di Mekkah shaum, bukan empat jam sebelumnya.
Ada kejadian aneh ketika shalat Idul Adha tahun lalu. Mereka yang melaksanakan shalat hari Selasa (versi GMT) mengatakan bahwa mereka mengikuti Mekkah, karena Mekkah juga hari Selasa. Ketika saya tanya: “Apakah saat ini (jam 09.00 WIB) di Mekkah udah shalat Id?” Dia jawab belum. “Lho katanya ngikut Mekkah, kok duluan, bukan belakangan?”. Gak bisa jawab tuh orang. Tapi ya gak mikir, bahwa kalau ngikut ya belakangan, bukan duluan.
Segini aja dulu ya?
Oya, sekedar pemberitahuan, bahwa saya udah sejak April 2007 melaksanakan shalat Jum’at di hari Jum’at yang bener (istilah yang saya pake adalah VERSI MMT/Mekkah Meridian Time). Bukan shalat Ju’at versi GMT. Karena menurut orang banyak hari itu adalah hari Sabtu, maka saya dan kawan-kawan melaksanakannya di rumah saya di Depok.
Jadi bagi yang masih mau ngikut orang banyak, saya ucapkan SELAMAT SHALAT KAMIS, dan SELAMAT SHAUM AHAD DAN RABU.
Wassalaamu ‘alaikum
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar