Jumat, 22 Juli 2011

BENAR, MUTLAK, DAN BISA DIPERCAYA, jilid 1 (Cerita Lama)

Assalamu’alaikum.

Saya bilang cerita lama karena isi topik ini udah pernah saya ceramahin berkali-kali di training Tingkat Dasar HMI tahun 1980-1983. Juga di acara-acara Studi Islam di SMA-SMA di Jakarta pada tahun yang sama.

Ceritanya begini:
1. Kalo saya pegang pulpen, dan saya tanya anda apakah pulpen ini panjang atau pendek, maka anda gak bisa jawab. Kenapa? Karena gak ada pembanding.
2. Kalo saya pegang baju berwarna putih lalu saya tanya apakah betul baju ini berwarna putih, mungkin anda bilang “ya”. Tapi kalo saya tanya masihkah baju ini terlihat berwana putih bila kena cahaya ultra violet? Anda akan jawab: “Yang enggak lagi”. Jadi warna baju itu putih atau tidak, tergantung pada warna cahaya yang mengenainya.
3. Lebih dalem dikit. Warna yang kita lihat sebenarnya adalah gelombang-gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang yang berbeda (satuannya angstrom, simbolnya 0A). Jadi yang kita lihat putih itu benarkah warna putih, atau gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang tertentu? Hanya karena keterbatasan mata kita makanya gak bisa lihat gelombang elektromagnetik, tapi hanya lihat warna. Kira-kira sama seperti kita lihat langit atau air laut berwarna biru. Benarkah berwarna biru, atau karena keterbatasan pandangan kita sehingga terlihat biru, padahal kenyataannya tidak begitu?
4. Apakah 1 + 1 = 2? Tergantung kita mau pake basis berapa. Kalo pake basis 1 (bilangan biner), maka 1 + 1 = 1.

KENYATAAN. Ini kata kuncinya. Kita gak pernah bertemu dengan kenyataan. Kita selalu bertemu dengan sesuatu sebatas kemampuan kita (melihat, mendengar, meraba, mengerti, memahami, dan lain-lain).

Jadi:
1. Kita tidak pernah bertemu dengan yang BENAR. Selalu bertemu dengan yang KITA ANGGAP BENAR (sekali lagi, karena keterbatasan kemampuan kita).
2. Semua RELATIF, tergantung pembanding. Gak ada yang tua, muda, cantik, jelek, kurus, gemuk, benar, salah, sopan, gak sopan, pinter, bego.
3. Masing-masing kita berpegang teguh pada apa yang kita yakini benar. Yang bertentang dengan kita maka MENURUT KITA dia salah. Kita juga salah, menurut yang bertentang dengan kita.
Jadi gak ada yang bisa dipecaya.
Lho, kok tau-tau kesimpulannya gak ada yang bisa dipercaya?
Ceritanya gini:
Saya percaya 100% apa yang saya yakini saat ini adalah benar. Andapun demikian kan? Pernah kita ngalamin bahwa apa yang tadinya kita yakini sebagai sesuatu yang benar, akhirnya kita tolak karena bertambahnya pengalaman, dan tentu juga pengetahuan, kita? Sering kan?
Jadi sangat mungkin apa yang sekarang kita yakini suatu saat akan kita bantah sendiri.
Mungkin ada yang bilang begini: “Kalo untuk urusan keyakinan agama, Islam udah pasti bener”
Saya nanya: “Udah pernah gak belajar agama lain dari orang yang ahli dalam agama lain itu dan dia juga beragama itu?”. Kalo belum, gimana kita bisa tau agama dia salah, dan agama kita bener? Akhirnya kita hanya berpegang pada keyakinan kita aja kan? Bahkan kita gak berani mengoreksi sejauh mana kebenaran agama Islam.
Kalo saya tanya, kenapa dalam Al-Qur’an kadang Allah pake kata “Dia” (padahal yang ngomong Allah. Berarti yang dimaksud bukan Allah dong.), kadang-kadang pake kata “Kami” (padahal katanya Allah menciptakan langit dan bumi, memerintah malaikat, dan lain-lain sendiri).
Kenapa Allah minta (liat surat Al Fatihaah. Minta petunjuk kan). Ada yang bilang, itu bukan Allah yang ngomong. Itu perintah Allah untuk kita ngomong.Saya tanya kalo gitu: “Kenapa gak ada kata perintah untuk “mengucapkan”, seperti dalam surat Al Ikhlash, Al Falaq, dan An Naas? Di awal ketiga surat itu ada kata perintah “katakanlah”.
Masih banyak lagi kebingungan yang kita temui, kalo mau liat isi Al Qur’an.
Tambah satu lagi deh.
Liat surat 4 (An Nisaa’) ayat 78 dan 79.
Di ayat 78 Allah bilang: “Kebaikan dan bencana, semua datangnya dari Allah”.
Di ayat 79 Allah bilang: “Apa saja ni’mat yang kamu peroleh, datangnya dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari dirimu sendiri”.
Mana yang bener?
Tuh, kalo kita mau koreksi. Banyak kan. Makanya saya bilang, kita percaya, tapi gak koreksi. Orang di luar Islam gak percaya akan kebenaran ajaran Islam.

Kesimpulannya:
1. TIDAK ADA YANG BENAR
2. SEMUA RELATIF
3. TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA.

Sampe di sini ada pertanyaan?

(dilanjutkan kapan-kapan)

Wassalamu alaikum.

Tidak ada komentar: